Candi ngetos terletak di Desa
Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk. Candi
ini kurang terkenl karena tempatnya yang kurang strategis. Letaknya cukup jauh
dari jalan besar dan berada di daratan tinggi. Akses yang belum memadai adalah salah satu kekurangan
dari wisata ini. Untuk mencapai candi ngetos kalian harus melewati perkebunan
pohon jati dan beberapa tanah tak berpenghuni, dan tentu saja di sini tidak
terdapat lampu jalan yang dapat menerangi perjalanan kalian. Jadi kalau bisa
jangan ke candi ngetos terlalu sore atau kalian harus melewati jalan yang cukup
gelap. Namun, karena tempatnya di dataran tinggi, saat malam jalan yang kita
lewati jauh lebih bagus. Kenapa? Kalian bisa melihat pemandangan dari dataran
tinggi, udaranya juga sangat sejuk--bukan karena di perbukitan saja, Nganjuk
memang terkenal dengan kota angin--dan yang paling keren adalah kalian bisa
melihat langit malam dengan leluasa--hal ini tidak berlaku ketika sedang
mendung.
Untuk mencapai candi ngetos,
belum tersedia kendaraan umum yang langsung sampai di tempat. Dari terminal
nganjuk kita naik angkutan umum menuju sawahan dan kita turun di desa kuncir.
Setelah itu kita naik ojek, di sana banyak sekali ojek yang bisa mengantar kita
sampai ke candi ngetos. Jika kita mau ke sana dengan kendaraan sendiri seperti
mobil pribadi atau motor. Namun harus diingat kalian harus sangat hati-hati,
meskipun jalannya sudah banyak yang beraspal tetap saja jalannya banyak kelokan
dan tanjakan.
Karena candi merupakan sebuah
peninggalan sejarah, jadi candi ngetos pun memiliki sejarah sendiri. Candi
ngetos ini merupakan sebuah peninggalan dari kerajaan majapahit. Candi ini
diyakini dibuat untuk tempat pemakaman raja Hayam Wuruk, yaitu raja yang
membawa majapahit ke era ke emasan bersama sang patih, Gadjah Mada. Pada
awalnya sang raja memiliki keinginan agar dikubur di tempat tinggalnya, di
depan gunung Wilis. Yang akhirnya terbuatlah candi ini. Namun masyarakat
sekitar percaya bahwa sebenarnya telah terbangun dua candi, yang disebut dengan
candi kembar. Sayangnya, candi kembar ini sudah lama hilang, dan mereka juga
percaya bahwa kuburan Hayam Wuruk terdapat pada candi yang hilang. Hai ini juga
dikatakan oleh sang juru kunci dan ada seorang seorang
ahli, Hoepermas yang
mengungkapkan hal serupa. Bahwa sebelumnya terdapat candi berukuran lebih kecil
namun memiliki bentuk yang sama.
Walaupun candi
ngetos merupakan salah satu peninggalan yang amat sangat berharga karena
terhubung langsung dengan sejarah kerajaan majapaht. Namun candi ini tidak
terawat dari awal. Meskipun sekarang sudah sedikit terawat, tapi sudah banyak
sekali bangunan yang hilang. Bahkan bangunan yang ada sekarang tinggalah
bangunan utama dari candi tersebut. Dan tentu saja banyak bagian yang sudah
terkikis. Sebenarnya ini bukan karena ulah manusia yang tidak mau merawat dan
melestarikan candi ini. Candi ini terbuat dari batu merah yang pada dasarnya
memang sangat mudah rusak dan terkikis. Maka dari itu sudah sangat sulit untuk
meneliti candi ini tanpa dukungan bangunan yang sudah hilang.
Candi ngetos
merupakan candi yang dibangun atas perintah raja Hayam Wuruk yang menginginkan
makamnya menghadap gunung Wilis. Maka dari candi ini kita dapat melihat dengan
jelas pamandangan gunug Wilis. Bangunan yang tertinggal adalah bangunan utama
candi. Dan bangunan ini memiliki ruang kosong ditengah bangunannya. Kita
diperbolehkan naik dan masuk kedalamnya, tidak terlalu besar tapi cukup untuk 3
orang dan dapat di gunakan untuk melihat pemandangan gunung Wilis.
Sayang sekali banyak
kekurangan di tempat wisata ini. Kurang nya keterewatan bangunan candi yang
menyebabkan beberapa bagian dari candi tersebut rapuh. Batu bata nya pun banyak
yang terkikis dan tak terbentuk bahkan hilang. Adanya keinginan untuk
memperbaiki candi tersebut belum ada. Walaupun, juru kunci telah mengatakan
bahwa candi ini sudah pernah dibangun/diperbaiki, namun itu sudah lama sekali.
Sebaiknya ada perhatian kusus untuk keterawatan candi tersebut. Kurang adanya
kesadaran dari wisatawan yang menyebabkan adanya beberapa bangunan yang dicoret-coret.
Padahal jelas terdapat larangan yang melarang merusak atau mengubah bentuk
bangunan candi ngetos yang disertai dengan dasar hukum yang dikenakan sanksi.
Pengetahuan dan sosialisasi tentang penting nya budaya indonesia dan sejarah
yang terkandung dalam bangunan candi tersebut sangat diperlukan untuk mengubah
perilaku wisatawan yang berbuat serong.
Referensi
Wawancara Juru Kunci 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar