Singokromo adalah air terjun yang berada di daerah Nganjuk, Jawa Timur. Wisata ini masih sangat alami dan masih sering disebut dengan wisata "Perawan". Meskipun begitu sudah banyak orang yang mengunjungi tempat ini karena kecantikan dan kealamiannya.
Tidak hanya tempatnya yang belum terjamah, namun letak dari wisata ini sangat sulit dijangkau. Sebagian yang datang berwisata ke air terjun ini memilih menggunakan sepedah dari pada transportasi lain karena lebih aman dan mudah menyesuaikan tempat. Wisata ini bertempat di desa Ngaliman, Kecamatan Sawahan. Air terjun ini tidak tinggi, hanya berkisar 20 meter namun volumenya yang besar membuat air terjun ini menjadi spesial dan menawan.
Singokromo merupakan nama yang aneh dan penuh dengan misteri. Sebenarnya nama ini berhubungan dengan asal daerah ini. Dahulunya tempat ini merupakan tempat di mana para singa atau harimau berkumpul. Mereka bukan hanya sekedar berkumpul namun para binatang ini berkumpul untuk kawin. Meski begitu tempat ini sangat bagus dan pemandangan yang disuguhkan sangat menawan.
Karena aksesnya yang bisa dibilang melewati hutan atau daerah pedalaman maka disarankan untuk berhati-hati. Dan sebaiknya jangan datang ke sana saat sudah sore karena akan sangat berbahaya. Belum dipastikan bahwa air terjun ini bebas dari binatang liar. Tapi itu bukan alasan untuk tidak datang ke air terjun ini. bebatuan yang ada di sekitar air terjun membuat air terjun ini terlihat sangat alami dan sangat tepat untuk tempat refresing. Udaranya sangat sejuk dan bebas polusi tentunya. Pemerintah sekitar harus cepat-cepat membangun akses yang lebih mamadai karena air terjun ini merupakan salah satu aset berharga untuk daerah Nganjuk.
Sumber tulisan dan sumber gambar
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/air-terjun-singokromo---nganjuk
http://www.maringetrip.com/2015/11/air-terjun-baru-nganjuk-singokromo.html
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-pUq5pqcDpnQ%2FVHqw8EtY2jI%2FAAAAAAAAALc%2FqYLB3aZP7Fc%2Fs1600%2Fair-terjun-singikromo-indah.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fwww.ngliman.com%2F2014%2F11%2Fair-terjun-singokromo-dan-legendanya.html&docid=IR2JxVwxSiO_yM&tbnid=b6ve6xEcmZM4zM%3A&w=450&h=677&bih=623&biw=1366&ved=0ahUKEwizyK2dw9fOAhVLo48KHc9iDDgQMwgtKBEwEQ&iact=mrc&uact=8
Selasa, 23 Agustus 2016
Sedudo
Sedudo
merupakan air terjun yang menjadi ikon dari daerah Nganjuk, Jawa Timur. Air
terjun ini masih sangat alami dan berada di daerah pegunungan gunung Wilis. Di
nganjuk terdapat banyak sekali air terjun yang masih belum di kelola ataupun
sudah dibangun dengan sangat baik. Seperti Air terjun Ngableng dan air terjun Singokromo
yang masih belum terjamah oleh pemerintah sekitar. Namun air terjun yang satu
ini merupakan air terjun tertinggi di daerah Nganjuk, karena itulah tempat ini
lebih diperhatikan.
Karena
air terjun ini cukup tinggi, sekitar 105 meter maka tak heran bahwa air terjun
ini bertempat di daerah pegunungan yang sangat jauh dari jalan besar. Untuk
mencapainya jika ingin menggunakan transportasi umum kita bisa naik angkutan
umum jurusan sawahan dari terminal nganjuk dan turun di terminal sawahan
setelah itu kita bisa naik ojek yang sudah tersedia banyak di sana. Sedangan
jika mau menggukan kendaraan pribadi sebaiknya kalian hati-hati karena banyak
tikungan tajam, dan jalannya tidak cukup lebar dengan tanjakan yang cukup
tinggi. Jika menggukanan mobil, mak kita harus berjalan cukup jauh dibandingkan
dengan pengguna motor karena parkirannya berbeda. Ada parkiran motor di sekitar
tempat air terjun, namun parkiran mobil hanya ada di bawah. Namun sebaiknya
kita parkir saja di bawah, karena tanjakannya semakin tinggi dan jalannya
sangat sempit dan tidak ada pagar yang membatasi jalan, jadi terkesan
berbahaya. Meskipun kita berjalan cukup jauh, tapi itu tidak akan terasa lelah
karena pemandangannya sangat bagus dan alami.
Banyak
sekali event yang diadakan di sedudo namun ini hanya akan diadakan di bulan
suro(bulan jawa). Ini berhubungan dengan kepercayaan yang masih hidup di
masyarakat sekitar. Air terjun ini sudah dikenal sejak zaman kerajaan majapahit.
Dahulu sedudo sering dipakai untuk membersihkan alat-alat pusaka milik
bangsawan kerajaan. Karena mereka percaya bahwa air yang mengalir di sedudo itu
berasal dari dewa, atau daerah kahyangan. Maka mereka menggunkannya untuk
membersihkan senjata agar senjata mereka diberkati atau menjadi suci.
Masyarakat juga percaya karena air yang berasal dari kahyangan maka air ini
bisa membuat awet muda. Kepercayaan ini masih hidup hingga saat ini, masyarakat
sekitar sangat percaya dan bahkan setiap tanggal 1 suro selalu diadakan ritual
di sedudo yang diselenggarakan oleh pemerintah sekitar. Banyak sekali ritual
yang dilakukan, seperti mandi di air terjun sedudo dan diterus kan dengan
ritual lain. Ada juga pertunjukan tari tradisional yang di tarikan oleh para remaja putri
yang biasanya merupakan perwakilan dari siswi SMA di nganjuk.
Tidak
hanya itu, pemandian benda keramat seperti halnya keris, juga dilakukan di
bulan suro. Memang ada eventnya sendiri. Kadang juga sering terlihat ada orang
yang bertapa di sedudo, dengan duduk atau berdiri tepat di bawah air terjun ini
selama beberapa jam bahkan hari. Karena sebegitu terkenal kasiatnya, air terjun
sedudo sendiri sering digunakan menjadi souvenir untuk dibawa pulang. Air yang
bisa membuat awat muda, hal ini juga masih sering dikatakan para wisatawan dan
menarik para wisatawan untuk berkunjung, namun sebenarnya air ini akan membuat
awet muda hanya pada bulan suro, tepatnya malam 1 suro, begitulah mitos yang
beredar.
Wisata
ini adalah satu-satunya wisata di Nganjuk yang sudah memiliki berbagai aspek
mendukung, seperti tempat penginapan dan pasar souvenir. Namun karena aksesnya
yang lumayan sulit membut banyak
wisatawan mengurungkan niatnya. Pemerintah saat ini juga sedang mengusahakan
pembangunan yang lebih di kawasan wisata ini.
Referensi dan sumber gambar
Candi Lor
Lagi-lagi
saya akan membahas tentang wisata di daerah Nganjuk, Jawa Timur. Nganjuk
merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak peninggalan sejarah karena
merupakan bekas dari wiliyah majapahit dan juga beberapa kerajaan lain. Maka
dari itu banyak tempat wisata di Nganjuk ini merupakan wisata sejarah, misalnya
candi.
Candi
Lor merupakan candi yang berada di desa Candirejo kecamatan Loceret. Candi ini
merupakan bukti dari asal mula daerah kabupaten Nganjuk. Candi lor juga sering
disebut sebagi candi boto(candi bata) karena bentuk candi yang seperti tumpukan
bata. Namun sayang sekali, candi ini sudah rusak, bukan karena ulah manusia
ataupun terkikisnya batuan bangunan candi. Tapi dalam candi ini tumbuh pohon
yang sangat besar yang membuat bangunan menjadi rusak. Pernah ada wancana bahwa
pohon tersebut akan ditebang atau disingkirkan dari candi. Namun wancana
tersebut membuat banyak orang tidak setuju, karena hal itu akan mengubah
keaslian candi itu sendiri. Akhirnya hal itu tak terjadi, pemerintah sekitar
hanya membangun daerah sekitar candi dan membiarkan pohon itu tumbuh di dalam
candi.
Untuk
mencapainya sangat lah mudah. Bahkan kalian bisa melihat candi ini dari jalan
raya. Dari terminal nganjuk, kalian bisa menggunakan bis jurusan kediri atau
angkutan umum jurusan sawahan dan turun di perempatan candi. Setelah itu kalian
bisa naik ojek atau becak untuk mencapainya, namun sebenarnya itu tidak perlu
karena kalian bisa jalan untuk menuju candi lor dengan jarak yang sangat dekat.
Candi
bata dibangun oleh Mpu Sendok, yaitu raja dari kerajaan medang kamulan yang
merupakan lanjutan dari kerajaan mataram kuno. Candi ini merupakan punden
berundak-undak sebagai tanda dari perjuangan mpu sendok melawan musuh dari
melayu yang dimenangkan oleh mpu sendok itu sendiri. Dari prasasti anjuk ladang
bahwa candi ini dibangun dan diperuntukkan untuk masyarakat anjuk ladang atas
jasanya dalam peperangan.
Referensi dan sumber gambar
Candi Ngetos
Candi ngetos terletak di Desa
Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk. Candi
ini kurang terkenl karena tempatnya yang kurang strategis. Letaknya cukup jauh
dari jalan besar dan berada di daratan tinggi. Akses yang belum memadai adalah salah satu kekurangan
dari wisata ini. Untuk mencapai candi ngetos kalian harus melewati perkebunan
pohon jati dan beberapa tanah tak berpenghuni, dan tentu saja di sini tidak
terdapat lampu jalan yang dapat menerangi perjalanan kalian. Jadi kalau bisa
jangan ke candi ngetos terlalu sore atau kalian harus melewati jalan yang cukup
gelap. Namun, karena tempatnya di dataran tinggi, saat malam jalan yang kita
lewati jauh lebih bagus. Kenapa? Kalian bisa melihat pemandangan dari dataran
tinggi, udaranya juga sangat sejuk--bukan karena di perbukitan saja, Nganjuk
memang terkenal dengan kota angin--dan yang paling keren adalah kalian bisa
melihat langit malam dengan leluasa--hal ini tidak berlaku ketika sedang
mendung.
Untuk mencapai candi ngetos,
belum tersedia kendaraan umum yang langsung sampai di tempat. Dari terminal
nganjuk kita naik angkutan umum menuju sawahan dan kita turun di desa kuncir.
Setelah itu kita naik ojek, di sana banyak sekali ojek yang bisa mengantar kita
sampai ke candi ngetos. Jika kita mau ke sana dengan kendaraan sendiri seperti
mobil pribadi atau motor. Namun harus diingat kalian harus sangat hati-hati,
meskipun jalannya sudah banyak yang beraspal tetap saja jalannya banyak kelokan
dan tanjakan.
Karena candi merupakan sebuah
peninggalan sejarah, jadi candi ngetos pun memiliki sejarah sendiri. Candi
ngetos ini merupakan sebuah peninggalan dari kerajaan majapahit. Candi ini
diyakini dibuat untuk tempat pemakaman raja Hayam Wuruk, yaitu raja yang
membawa majapahit ke era ke emasan bersama sang patih, Gadjah Mada. Pada
awalnya sang raja memiliki keinginan agar dikubur di tempat tinggalnya, di
depan gunung Wilis. Yang akhirnya terbuatlah candi ini. Namun masyarakat
sekitar percaya bahwa sebenarnya telah terbangun dua candi, yang disebut dengan
candi kembar. Sayangnya, candi kembar ini sudah lama hilang, dan mereka juga
percaya bahwa kuburan Hayam Wuruk terdapat pada candi yang hilang. Hai ini juga
dikatakan oleh sang juru kunci dan ada seorang seorang
ahli, Hoepermas yang
mengungkapkan hal serupa. Bahwa sebelumnya terdapat candi berukuran lebih kecil
namun memiliki bentuk yang sama.
Walaupun candi
ngetos merupakan salah satu peninggalan yang amat sangat berharga karena
terhubung langsung dengan sejarah kerajaan majapaht. Namun candi ini tidak
terawat dari awal. Meskipun sekarang sudah sedikit terawat, tapi sudah banyak
sekali bangunan yang hilang. Bahkan bangunan yang ada sekarang tinggalah
bangunan utama dari candi tersebut. Dan tentu saja banyak bagian yang sudah
terkikis. Sebenarnya ini bukan karena ulah manusia yang tidak mau merawat dan
melestarikan candi ini. Candi ini terbuat dari batu merah yang pada dasarnya
memang sangat mudah rusak dan terkikis. Maka dari itu sudah sangat sulit untuk
meneliti candi ini tanpa dukungan bangunan yang sudah hilang.
Candi ngetos
merupakan candi yang dibangun atas perintah raja Hayam Wuruk yang menginginkan
makamnya menghadap gunung Wilis. Maka dari candi ini kita dapat melihat dengan
jelas pamandangan gunug Wilis. Bangunan yang tertinggal adalah bangunan utama
candi. Dan bangunan ini memiliki ruang kosong ditengah bangunannya. Kita
diperbolehkan naik dan masuk kedalamnya, tidak terlalu besar tapi cukup untuk 3
orang dan dapat di gunakan untuk melihat pemandangan gunung Wilis.
Sayang sekali banyak
kekurangan di tempat wisata ini. Kurang nya keterewatan bangunan candi yang
menyebabkan beberapa bagian dari candi tersebut rapuh. Batu bata nya pun banyak
yang terkikis dan tak terbentuk bahkan hilang. Adanya keinginan untuk
memperbaiki candi tersebut belum ada. Walaupun, juru kunci telah mengatakan
bahwa candi ini sudah pernah dibangun/diperbaiki, namun itu sudah lama sekali.
Sebaiknya ada perhatian kusus untuk keterawatan candi tersebut. Kurang adanya
kesadaran dari wisatawan yang menyebabkan adanya beberapa bangunan yang dicoret-coret.
Padahal jelas terdapat larangan yang melarang merusak atau mengubah bentuk
bangunan candi ngetos yang disertai dengan dasar hukum yang dikenakan sanksi.
Pengetahuan dan sosialisasi tentang penting nya budaya indonesia dan sejarah
yang terkandung dalam bangunan candi tersebut sangat diperlukan untuk mengubah
perilaku wisatawan yang berbuat serong.
Referensi
Wawancara Juru Kunci 2013
Roro Kuning
Roro
kuning merupakan nama sebuah tempat wisata di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Yaitu sebuah air terjun yang berada di daerah Bajulan, kecamatan Loceret. Namun
wisata ini lebih sering disebut dengan air merambat roro kuning, karena bentuk
air terjunnya lebih bisa dikatakan merambat dari pada terjun. Air yang mengalir
di roro kuning merupakan sumber asli dari tiga sumber mata air di gunung Wilis.
Untuk
mencapai air merambat roro kuning, dari terminal nganjuk kalian bisa naik bis
jurusan kediri setelah itu turun di perempatan loceret atau halte SMP 1 Loceret
dan dilanjutkan dengan naik ojek atau becak. Sedangkan jika memakai kendaraan
pribadi--motor atau mobil--kalian bisa mengikuti papan arahan yang ada di
sepanjang perjalanan. Karena daerah pegunungan maka kalian harus hati-hati,
banyak sekali tanjakan dan kelokan tajam untuk menuju roro kuning. Roro kuning
ini sering kali dikunjungi para wisatawan dengan kendaraan sepedah, meskipun
terjal dan menanjak namun pemandangan yang bisa dinikmati dengan bersepedah
lebih menyenangkan dan seru. Sayang sekali di daerah sekitar belum ada
penyewaan sepedah untuk para wisatawan. Sepanjang jalan kalian hanya akan
melihat pemandangan alam, seperti sawah, terasiring maupun bukit yang belum
terjamah. Banyak juga batu-batu sisa letusan gunung Wilis yang menempel atau
menghiasi bukit di sepanjang perjalanan.
Roro
kuning memiliki legenda yang cukup berkontrofersi namun saya memilih legenda
ini karena menurut saya legenda ini lebih masuk akal dan memungkinkan pernah
terjadi. Ini berhubungan dengan putri kerajaan Doho, Dewi Kilisuci dan Dewi
Sekartaji. Mereka berdua merupakan anak dari Lembu Amiseno. Suatu saat mereka
mengalami sakit yang tidak bisa di sembuhkan Dewi Kilisuci sakit kuning sedang
Sekartaji Sakit kulit dan gondok. Karena mereka tidak bisa disembuhkan oleh
warga kerajaan maka mereka berdua berkelana hingga lereng Gunung Wilis. Saat
itulah mereka bertemu dengan Resi Darmo yang mengobati mereka dengan
ramuan-ramuan tradisional hingga sembuh. Ketika berada dalam masa penyembuhan
itulah mereka sering mandi di air merambat ini. Karena itulah sang Resi
mengabadikan air terjun ini dengan nama Roro Kuning yang dimaksudkan untuk
mengenang mereka berdua.
Air
merambat ini sebelumnya belum terlalu diperhatikan oleh pemerintah sekitar.
Hingga sekitar tahun 2006-2007 mereka mulai membangun tempat ini menjadi lebih
bagus dan menambah beberapa fasilitas. Seperti kolam renang yang ada di atas
sebelum memasuki air terjun bagian bawah. Karena pegunungan roro kuning memiliki
dua daerah yang bisa dikunjungi. Bagian bawah adalah tempat terakhir bagian
rambatan dari air terjun ini. Ada kawah dibawah air terjun ini dan biasa dibuat
mandi atau sekedar main air oleh wisatawan. Tapi di atas juga ada air merambat
yang lebih bagus dari bagian bawah. Karena tempatnya diatas dan kita harus
sedikit mendaki untuk mencapainya maka bagian ini biasa dipenuhi oleh para
pemuda. Di sekitar roro kuning juga ada tempat penangkaran rusa. Jadi kita bisa
melihat rusa dengan lingkungan yang masih sangat alami. Di awal jalan masuk
menuju roro kuning kita akan disambut oleh patung berwarna emas yang terukir
membentuk seorang putri yang amat cantik dengan selendangnya. Patung ini
disebut dengan penggambaran Roro kuning. Terdapat banyak tempat kemah di sini
jadi kita bisa berkemah di daerah ini dan menikmati pemandangan alam di malam
hari.
Karena
tempatnya di pegunungan maka saat musim hujan, di sana sangat rawan dengan
tanah longsor. Walaupun sebenarnya air yang dikeluarkan lebih bervolume dan
udaranya lebih sejuk dari musim biasanya tapi sebaiknya jangan ke sana saat
musim hujan. Pemerintah sekitar masih memikirkan cara untuk memperbaiki masalah
ini. Dan semakin memajukan wisata air merambat ini.
Langganan:
Komentar (Atom)







